blog yg lain

Tuesday, July 16, 2013

Cinta Belum Berakhir



Wajah itu seperti kukenal.
Dalam batas jarak pandangku, kulihat ia di seberang jalan.
Berdiri di halte yang terletak persis di seberang apartemen. Dengan baju yang tak asing di ingatanku. Sayang hujan lebat menghambatku untuk berusaha mendekatinya.
Kuyakinkan sekali lagi pengelihatanku.
Tetapi sosok itu telah hilang.

Kedua kalinya kulihat perempuan  itu. Tampak duduk di dalam kafe langgananku. Saat itu aku akan keluar meninggalkan kafe.  Kulihat di selasar depan, di kursi pojok kiri. Tempat yang sering kupilih untuk menyendiri saat memang sedang ingin sendiri. Perempuan  itu tampak menempatinya. Kami sempat bertatapan  sejenak. Kuyakinkan bahwa ia memang perempuan yang pernah begitu istimewa, bersemayam di hatiku.
Tetapi, lagi-lagi, rasa sakit ini membawa kakiku menjauh.
Menggiring langkah bergerak cepat.
Saat kutengok ke belakang setelah aku sampai di bibir jalan.
Lagi-lagi.. Sosok itu menghilang.
Kulirik jam, sudah diangka 2.04 WIB. Mana mungkin anak itu keluar jam segini. Setahuku, ia dulu suka kelayapan sampai pagi ya hanya denganku.
Ah, sudah lah, sebuah taksi melintas dan tanganku spontan melambai. Tahu-tahu aku didalamnya dan melesat menuju pinggiran Jakarta menuju tempat tinggalku.
Pertemuan ketiga. Kali ini aku menemui perempuan  itu di bandara, saat akan terbang menuju Surabaya. Tepatnya di restoran cepat saji yang lagi-lagi adalah… tempat dimana dulu aku pernah menunggu dia.
Saat aku dengan sekantung donat. Menunggu pesawat yang ditumpanginya,  yang ternyata terlambat datang.
Di deretan depan kursi keperakan itu. Dengan mulut yang tak berhenti mengunyah karena menahan tegang yang amat sangat. Kegelisahan laki-laki yang takut gadisnya mengalami celaka.
Ia sekarang terpekur disitu. Lagi-lagi, perasaan sakit ini yang menahan kakiku mendekatinya.
Aku menghambur cepat meninggalkan sosoknya sambil menyeret bawaanku yang lumayan berat. Pesawat segera berangkat.
Dalam perjalanan didalam taksi dari Juanda menuju Surabaya kota, baru terpikir olehku, ada yang aneh dalam setiap perjumpaanku dengannya. 
Perempuan  itu menampakkan diri di tempat-tempat dimana aku dulu pernah mempunyai kenangan dengannya. Baik kenangan pahit ataupun manis. Kuingat-ingat. Pertama kali ia menampakkan diri di depan apartemen adalah tempat dimana kami dulu pernah bertengkar hebat. Halte depan apartemen dan hujan yang mengguyur hebat. Hmm.. sebuah kebetulan yang ajaib. Saat di kafe itupun. di tempat biasa aku menenggelamkan diri. Ia datang di suatu malam. Menemuiku menyampaikan kabar itu. Kabar yang melantakkan semuanya. 
Kemudian terakhir, di bandara.
rasa penasaran ini membuatku merogoh saku jaket. mengeluarkan HP dan memencet nomer seluler. Suara “tut..tut...”  menandakan HP tidak aktif. Kuingat, nomor lain yang bisa kuhubungi. Ya.. nomer rumahnya. tetapi…. Ah, kusingkirkan rasa ragu dihati, yang sempat meruyak dari kemarin.
Yang selalu menahan langkahku menemuinya.
Bukan kaki ini yang malas menemuinya. Tetapi sepertinya hati ini yang masih terasa seperti disayat.
Kupencet nomor rumahnya.. Nada mengisyaratkan tersambung, kemudian ada yang mengangkat telepon. “Assalamualaikum!” Sapaku sopan. “Waalaikum salam…” suara lembut di seberang. sebertinya suara bunda. 
“Saya Rizal bu” aku menguluk diri. Tak kudengar jawaban dari seberang telpon. Diam… Lumayan lama, sepi mengepung percakapan yang coba kubangun. Kemudian, terdengar tarikan nafas dalam disusul suara isak… Isak tangis tertahan. “Nak Rizal sudah tahu kalau Nita meninggal?”

Aku tercekat…
Kakiku mendadak lemas...


@seblat

Monday, July 15, 2013

Cerita Lelaki




Enam botol bir itu sudah tandas isinya.
Mata kami tak juga meredup, justru tambah liar.
Temaram lampu menyamarkan wajah gadis-gadis itu.
Lekuk tubuh mereka saja yang menari-nari di mata ini.
Bondan sudah “naik” sepertinya. Dengan sigap direngkuhnya gadis langganannya itu.
“aku naik dulu ya..”
katanya sambil cengengesan, meninggalkan kami.

Tejo meneruskan menyanyi.
Suara cemprang tak masalah, orang mabuk gini.
Bir datang lagi, empat botol. Ditenteng Sari, Purel Langganan Tejo yang lumayan montok dengan body “renaissance” nya.
Suasana berubah menjadi klasik.
Seperti kembali ke abad pertengahan.
Sari mendekap Tejo yang seperti kesurupan nyanyinya.
Keduanya berciuman dengan ganas.
Aku seperti melihat Monalisa mencumbu Basquiat.
Lelaki dengan rambut gimbal bercumbu dengan gadis montok berambut lurus. Bercumbu dalam irama musik metal… Mellow Total khas band-band indonesia terkini.
Aku menyambar mike, meneruskan nyanyi.
Tentunya tetap dengan suara tak karu-karuan.
Dan.. Bir…
Tambah lagi...
Tambah lagi… Lagi…
Lupa sudah wajah anak dan istri. Ingatan tentang pernikahan. Juga anak-anak di rumah yang menunggu ayahnya pulang.
Lelaki, selalu punya pembenaran untuk semua yang dilakukan. 
Toh, kami tak pernah menggadaikan cinta.
Hanya pemenuhan syahwat.
Seperti saat lapar, kami makan. Saat haus kami minum.
Syahwat pun demikian, saat butuh membuang sperma, di belilah lubang pembuangan itu. 
Istri?
 Waduh.. ia terlalu agung untuk sekedar sebagai alat buang hajat.
Juga saat suntuk di tengah pekerjaan yang seperti menyeruduk.
Membanting dan menguras tenaga. 
Kami butuh pelampiasan.
Dan teriak-teriak seperti ini tak mungkin dilakukan dirumah. 
Harus jaim di mata anak-anak.
Karena kami adalah bapak teladan di mata mereka.
Kami harus terlihat tegas tapi lembut dan hangat. 
Ah.. sudah lah..
kami sedang menikmati kemerdekaan curi-curi ini.
Kebetulan juga, uang yang kami hamburkan adalah uang haram.
Uang panas yang tak jelas asalnya, yang tak baik kalau kami bagi dengan anak dan istri.
Jadi… reguk lagii.
Pagut lagi….
Sampai pagi…
Sampai keringat susut, dan kami membersihkan diri.

Memakai minyak wangi lagi.
Sehingga istri tak curiga dan anak mau memeluk ayahnya. 
Menyambutnya bak pahlawan yang pulang kecapean karena lembur menyelesaikan pekerjaan.

@seblat | November 2008

Dongeng kematian




Tujuh langkah terakhir dari orang-orang yang mengantar kematiannya masih terdengar. 
Juga Isak keluarga dekatnya, saat jasadnya ditimbun tanah. 

Sampai kemudian semua mendadak berubah, Tanah sempit itu mendadak melebar. Kemudian dari dalam tanah muncul tembok yang menyekat membentuk bangunan rumah. Diujung ruangan secara ajaib muncul seperangkat meja kursi dengan makanan yang terhidang diatasnya. tempat ia ditidurkan pun sekarang berubah menjadi ranjang empuk yang nyaman.
Inikah alam kuburnya? Inikah balasan Tuhan atas apa yang ia perbuat selama ini?

Saat kesadarannya belum sempurna, lamat ia dengar suara tangis. 
Rupanya penghuni bangunan disampingnya. Dilongoknya dari jendela rumah, bangunan tempatnya tinggal saat ini. Seseorang tampak meringkuk di pojokan. 
Disapanya orang itu, “Kenapa kok nangis?” Orang itu melongokkan wajahnya. terlihat karut. “aku lapar.. tapi makanan yang muncul selalu basi, tak bisa kumakan..” Ratapnya sedih. Merasa iba, diambilnya jatah makanannya unutk diberikan ke orang itu. Tetapi ajaib, Ia tidak bisa memasuki wilayah orang itu. Seperti ada sekat tak terlihat yang menahan langkahnya.
“Sudah 10 Tahun aku disini..makananku selalu basi” orang itu terbata-bata menceritakan nasibnya.

matanya berkaca-kaca. 
Saat itu tiba-tiba, ruangan nya yang tadi agak redup perlahan mulai terang benderang.
Sementara ruangan tetangganya yang selalu dapat makanan basi itu menggelap. kemudian menyempit.. Menghimpit sang penghuninya yang tak bisa berbuat apa-apa..Hanya berteriak pilu.

Tak kuasa ia melihat pemandangan itu. kemudian kakinya melangkah keluar. Seperti ada yang menggerakkan, kakinya berjalan ke arah samping kanan. disitu ada bangunan besar dengan taman yang indah. dilihatnya sang penghuni sedang duduk di tengah taman.
Wajahnya berseri-seri. Pohon buah beraneka jenis tumbuh dan merunduk seolah meminta untuk dipetik dengan buah-buah yang segar. betapa bahagia orang itu. makanan lezatpun melimpah di mejanya. 
Hatinya bergetar gembira melihat pemandangan itu. meski tak semewah rumah orang itu. Rumahnya sekarang juga terlihat bagus, walau lebih sederhana.
Kemudian ia melangkah lagi. di seberang jalan ia melihat pemandangan yang memilukan. Seseorang tampak terhimpit tanah. matanya melotot dengan urat menguar dimuka dan lehernya. 
Tak ada keluhan yang muncul dari mulutnya, karena mulutnya tampak terbuka dengan lidah menjulur. 
Sepertinya rasa sakit tak bisa digambarkan lagi..
Terbata ia bergegas…. 
Lari tanpa melihat arah.. 
Pontang-panting kaki berlari. 

Di perjalanan macam-macam hal dilihatnya.
 Orang-rang yang menerima balasan atas apa yang diperbuatnya selama hidup. 
Ada yang terlihat gembira. 
Ada yang tersiksa tiada tara.
Sampai akhirnya ia tiba rumahnya sendiri. 
Kemudian ia masuk kedalam rumahnya. 
Hatinya masih tercekat dengan semua pemandangan yang dlihat barusan. 
Tiba-tiba ia teringat anaknya. Ingin sekali ia menceritakan apa saja yang dilihatnya.
Seandainya ia bisa hidup lagi. 
kembali ke kehidupan dunia. 
Komat-kamit mulutnya membaca doa.
Agar bisa hidup lagi. 
Bertemu anaknya. 
Menceritakan semuanya.
Semuanya..

Setelah tiga hari berdoa, keinginannya rupanya dikabulkan. 
Atap rumahnya tiba-tiba terbuka. Reruntuhan tanah mengenai wajahnya. Ia menggerakkan tubuhnya yang kembali terbungkus kafan. 
Dilihatnya wajah anak terkasihnya terperanjat. 
“emak hidup lagi.. emak hidup lagii!!” teriak anaknya, diiringi wajah-wajah tegang dan terperangah dari orang-orang yang membantu membongkar makamnya.
Akhirnya ia kembali kerumahnya. 
Di rumah, anaknya bercerita, kalau semenjak emaknya di kubur. empat hari setelah itu ia bermimpi emaknya meminta ia untuk membongkar kubur. Karena penasaran dengan mimpinya akhirnya ia bongkar. 
Ternyata benar. emaknya hidup lagi.
Orang-orang kampung berkumpul di rumahnya, termasuk sang Buya yang terhormat. 
Tuan Guru yang selama ini menjadi pemuka agama di kampungnya.
Mereka duduk melingkar. Siap untuk mendengakan ceritanya selama empat hari menghuni alam kubur.

Akupun turut mendengar cerita itu, meski cuma dari mulut kakakku, yang juga mendapatkan cerita dari teman kerjanya, yang kebetulan satu kampung dengan nenek itu.
Nenek yang merasakan kehidupan kedua.
Kemudian kutulis cerita itu, untuk kubagi disini


@seblat | Depok | Desember 2009


Wednesday, July 10, 2013

Prenjak di pohon kapuk

Tahun 1983

Bulan Puasa sudah memasuki sepuluh hari terakhir,
Aku belum bolong sekalipun. Hebat kan...
Di sisa sepuluh hari ini, aku meniatkan jangan sampai puasaku batal. Meski panas kemarau memanggang kepala saat membantu ibu menjemur gabah, bakal nasi.
Ibuku menjemur gabah hasil panennya sendiri. Tentu saja dibantu aku dan kakakku.
Di halaman rumah joglo kakek kami itulah, kami bersibahu menjemur padi. Setelah bulir-bulai gabah itu sebelumnya di “gebug” dengan bongkot pelepah kelapa. Biasanya kang Basuki, tetangga depan rumah yang membantu ibu. Tenaganya besar sekali.
Setelah gabah kering, ibu sering menumbuknya sendiri di lesung samping rumah d bawah pohon jeruk.
Suaranya nyaring “blug.. blug.. blug’... beras yang dihasilkanpun lebih enak daripada beras hasil gilingan mesin. Lebih wangi. Memakan beras hasil olahan ibu, cukup dengan ikan  teri dan sambel tomat, dijamin enak sekali.

Lebaran kali ini, aku tidak ke kota, ke rumah bapak.
Kabarnya bapak dan kakak-kakakku yang akan ke Nglembu.

Mereka akan menjadi serombongan orang kota yang tampak pongah berkeliling kebun kakek. Memetik buah-buahan, atua mancing ikan di tebat belakang rumah.
Memancing ikan mujaher yang susah payah kupelihara.

Tetapi tidak apa-apa. Rumah jadi ramai kalau ada mereka.
Sepi menghilang. Rumah juga benderang karena ayah menyalakan lampu petromaks di ruang tengah.
Biasanya kami hanya memakai teplok yang nyalanya kemerahan temaram.
Kalau lampu pompa yang kami menyebut mereknya “petromaks” menyala, giranglah hati. Ruangan kami terang benderang. Jadi bisa sigap lelumpatan bermain jethungan didalam rumah dengan Pangat dan Domber. Meski tak bisa lama karena dimarahi ibu.

Hari ini aku menunggu mereka,
Gerombolan orang kota itu.
Prenjak dari pagi sudah nyaring berbunyi. Seakan mengabarkan bakal ada tamu.
Ibu bilang, kalau prenjak berbunyi berarti tamu akan datang.
Susahnya prenjak kadang tak terprediksi. Ia sering berada di posisi yang membingungkan. Seperti hari ini. Ia berkicau di pohon kapuk yang posisinya pas di batas pagar rumahku dan rumah pakde Kabdi, tetangga sebelah rumah. Jadi, tamu siapa yang akan datang? Tamu Pakde Kabdi, atau tamu rumahku?

Ah biarlah, yang penting ada harapan. Dan harapan selalu menumbuhkan semangat. Puasa jadi terasa lebih singkat. Tahu-tahu saja sudah sore.

Prenjak hari ini kurang tepat sepertinya.
Tidak ada tamu seorangpun berkunjung ke rumahku sampai mahgrib.
Tentu saja kecewa, tetapi tidak apa.
Malam ini aku akan taraweh di masjid kampung di selatan sana. Dekat jalan utama.
Tentu bersama Pangat dan Domber.

Taraweh di kampung kami sungguh memanjakan anak-anak. Saat selesai solat 20 rakaat plus 3 raka'at witir yang tentu saja menyita tenaga, anak-anak akan mendapatkan penganan yang disebut “jaburan”
Jaburan favorit kami adalah nasi gurih dengan suwiran daging  ayam dan kacang tholo yang ditempatkan di daun pisang yang kami sebut takir.
Nasi takir inilah yang ditunggu-tunggu anak-anak. Tetapi, kalau sudah kelihatan kardus berisi roti.. sontak kami akan bergumam “aaaa” pertanda kecewa. Bahkan, saking fanatiknya dengan nasi takir, kang Sartono menggambarnya dengan pinsil di tembok jerambah masjid. Gambar takir lengkap dengan tulisan “Takir wasiat,” entah apa maksudnya. Tetapi saat membaca itu, kami akan terbahak-bahak tertawa.

Yah, ritual ibadah seperti puasa, juga lebaran sejatinya adalah milik kami, para anak-anak.
Kamilah yang sepenuhnya menikmati.
Seperti aku yang selalu setia menunggu prenjak nyaring di depan rumah.
Berharap keluargaku dari kota datang. Membawakan baju lebaran, atau sekaleng besar  biskuit Khong Guan. Aku sudah bosan makan tape ketan  dan rengginang.

Seperti hari ini, ibu menyarankan aku dan Mahmud kakakku menunggu di batas desa dekat jalan raya. Prenjak yang berbunyi sangat meyakinkan sekali. Tepat di atas teritis rumah di dahan kapuk yang menjuntai.
Lalu aku berlari-lari kecil berendengan dengan Mahmud kakakku. Menuju perempatan Paker, Jalan Parangtritis.  Melewati pematang sawah kalen tengah. Kalen dimana aku dan Mamuk, panggilan akrab kakakku, sering mandi dan mencari ikan.

Panas yang terik menggoda aku dan kakakku untuk terlebih dahulu mandi di kali dengan dam kecil yang menahan  air sehingga menjadi agak dalam. Bahkan bisa menenggelamkanku. 

Tak lama datang seorang kawan,  Mustofa namanya
Ia adalah  anak takmir masjid yang masih saudaraku.
Kami lalu mandi bersama. Bercanda sampai lupa waktu. Tak terasa sudah ashar. Mustofa buru-buru pulang karena harus berjamaah di masjid.
Aku dan Mamuk balik ke rumah. Lupa rencana awal menunggu sodara-sodara yang akan datang.

Saat sampai halaman, kulihat banyak sendal dan sepatu berjajar.. 
Sontak hati ini gembira, saat melihat salah satu sandal itu milik bapakku.
Berarti mereka sudah datangggg...

Kali ini burung Prenjak bisa dipercaya kicauannya 


@seblat | ledok ciliwung | depok | 2012

Monday, July 8, 2013

ajari aku cinta

Kita berjalan pada waktu yang lelah.
Sangat lelah.

Cinta begitu membebani hati ini. 

Juga pengharapan yang rasa-rasanya semu.
pengharapan akan peluk hangat. Juga rindu pekat, yang menenangkan hati ini.
Kerinduan akan sapa lembutmu.
Di telinga ini.
Tak perlu kau ucap cinta.
Meski aku berharap kamu ajari aku cinta.
Bukan nafsu yang sudah banyak diliarkan oleh orang-orang yang menganggapku hanya segumpal daging buat dinikmati.
Disesap-sesap, meski hanya lewat tatapan liar mereka dibalik kamera.

 Ingin aku mendengar, bahwa adamu untuk  menjagaku.
Bukan malah membuatku sengkarut seperti sekarang ini.

Bahkan kau tak pernah tahan menatapku tiga detik saja.
Selalu kau lempar pandangmu ke  cakrawala.
Atau tunduk sampai tanah seakan lesak di tatapmu.
Sementara mulutmu bisu.
Meski tetap ada yang berisik menggangguku.
Menyuarakan macam hal yang terlalu berisik.
Beberapa kali kuminta kau menenangkan suara-suara itu.
Kau tak bergeming.
Hanya diam di belakangku.
Menjadi bayang-bayangku.

Tak berusaha menolongku agar terbebas dari suara-suara yang awalnya kukira suara malaikat itu.
Meski kau tak pernah pergi.
Selalu ada di dekatku.
Selalu di sekitarku.
Selalu tak lepas dari diri ini.
Bahkan di saat intim sekalipun.
Saat aku bercumbu dengan laki-laki yang memelas memohon inginkan kehangatanku.
Kau ada dan... 

“Arggggghh!!!”

Jangan sampai aku harus berlari darimu....
Jangan sampai kuakhiri hidup ini...
Jangan sampai...
Ah. “masa bodoh!!”
Aku berteriak lalu menghambur dari kamar.

Kuambil kunci mobil di atas meja rias. Lalu bersegera keluar rumah.
Pintu kubanting keras-keras demi meluapkan amarahku.
Segera aku masuk mobil yang terparkir di  teras,
lalu memacunya.

Jalanan masih remang-remang. Masih gelap malahan.
Tetapi aku tak peduli.
kularikan cepat mobil di jalanan yang lengang.

Tetapi suara-suara itu tiba-tiba muncul, sementara kamu hilang.
Kamu lenyap dari sekitarku. mungkin karena gelap,
tak ada sinar yang bisa menampakkan bayang-bayang.

Padahal aku butuh kamu agar mengusir suara-suara itu.
Yang tak Cuma berisik, tetapi juga mulai menggerayangi tubuhku.
Sedangkan aku sedang menyetir. Mengemudikan mobil entah kemana.
Aku sendiri tak tahu tujuanku.
Yang penting keluar rumah. 

Lari darimu yang justru mendadak lenyap.
Kini aku digerayangi suara-suara itu. Menarik-narik bajuku.
Seakan ingin melepaskannya.
Dan memang sepertinya begitu.
Suara itu smakin kurang ajar.
Sekujur tubuhku digerayanginya. Bajuku dilucutinya.
Sedangkan tangan ini harus konsentrasi mengemudi.
Suara itu sangat bertenaga,
tanganku tak kuasa menahan tarikannya.
Satu persatu baju, celanaku dilucutinya. 

Tinggal celana dan kutang yang menempel  ditubuhku. 
Suara itu masih saja menggerayangi tubuhku.
Payudara, paha dan kelaminku.
Semua digerayanginya.
Aku tak tahann.. aku tak bisa konsentrasi.
Apalagi di depan, jalan menikung.. 

Lalu...  “brukkkk”
Mobilku membentur entah apa di depan...

Aku terkapar.. 

Gelap!
#

Media ramai memberitakan, seorang gadis cantik tanpa busana menabrak beberapa orang dan kendaraan yang terparkir. Sepertinya gadis itu depresi, atau terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan



(depok 8-7-2013)

(judulnya meminjam judul lagunya Maudy Ayunda "ajari aku cinta'
Nulis cerita ini juga sambil dengerin lagunya Maudy )

Tuesday, June 4, 2013

lagu POP

Fragmen ke 1
Malam merambat tua.
Bulan merah membulat kusam.
Semakin kuyup jiwa ngungun  dengan lagu-lagu yang mengalun.
George Benson, Johny Logan, Linda Ronstard...
Menggiring nalar pada tepian waktu, saat lengang jalanan seputar Bunderan UGM masih menjadi jujugan. Sekedar menumpahkan gelisah. Atau melabuh  lelimangan naluri nakal nan kurang ajar, yang sayang untuk di kekang.
“Jangan...  Jangan ditahan. Tumpahkan saja... Luapkann...”  Itu katamu.
“Karena itu harta kita. Harta kita hanyalah kenangan yang meneduhkan.”
“Bee Gees, Phil Collin, Tomy Page, lalu  Jackson Pollock... andy Warholl... Basquiat…Kostabi.”
“Oh.. kau melantur sayang.. yang kau sebut barusan pengagum Ramones.“ kataku.
Kau terbahak...
Malam masih memanjakan... memanjakan rasa ini berbalur indah kenangan.
Air supply, Rhavi Sangkar, Rhoma Irama...  “darah muda...oh... begadang jangan begadang...”

Fragmen ke 2
Kau berpikir aku sakit hati.
Nanar dengan nalar terlempar hingga bulan Syawal kemarin. Tak ku jejakkan kakiku di pelataranmu.
Menyentuh tangan tegar bundamu, menatap matamu dalam-dalam, dan memutar kembali lagu rindunya Tic Band di dalam hati yang gemuruh.
Tak juga kupenuhi janjiku membawakan bacaan kesukaanmu.
Menumbuhkan kembang  melati di sela pohon rambutan yg mulai berbunga, atau melamun dengan Adagio C Minornya Yani di selasar rumahmu..
oh...  Tidak ada sesak yg menggumpal.
 Hanya enggan yang menahan langkah ini melaju di pintu rumahmu.
Atau mungkin aku telah jatuh cinta lagi, dengan dewi malam atau dengan bidadari penjaga pengkolan hati orang-orang jomblo yang galau tetapi tak punya nyali untuk bunuh diri.
Hmm...

Jangan-jangan  aku telah lelah menunggu.
Karena menunggu adalah pekerjaan paling menguras perasaan.
Lagian  aku bukan terminal, yang setia menunggu musafir seperti apa bentuk rupanya.
Dari  bajingan sampai pecundang. Dari lonte murahan sampai gigolo kurang bekal.
Seperti mantan pacarmu dulu.
Yang sukses kubuat bengkak-bengkak wajahnya.
Bukan karena aku cemburu... Bukannn.
Hanya wajahnya yang nyolot sukses membuat didih di kepalaku tak tertahan lagi.

 Fragmen ke 3
Jakarta adalah ritme liat.
Meski enggan, selalu kaki ini ingin kembali menapakinya.
Terjebak dalam riungan hari yang menjebi.. dalam teriakan histeris “Screamm” March Cagall.
Dalam warna-warni  cipratan ritmis Pollock… menyeruak dan terengah dalam geliat yang cepat memompa adrenalin… samar kudengar Linkin Park.

Kau enggan menginjaknya.
Bagimu keselarasan adalah utama. Irama perkutut dengan klenengan guntur madu adalah ritme yang meneduhkan. sepoi kabut pasir hasil pusaran angin di gumuk Parangkusumo dengan lonte setengah tuanya adalah puisi tanpa kata.
Itu adalah muskil kau rasakan disini.
Meski di Prumpung ada juga lonte setengah tua. Banyak malahan.

Jakarta.
Kota  yang naik bis kota adalah sebuah pertarungan.
Naik kereta adalah pergulatan.
 Jalan kakipun sebuah pertaruhan.
Tak ada trotoar yang menyapa ramah seperti Malioboro.
Tak ada tegur sapa tulus seperti di pasar Pundong, tak ada basa-basi, yang pasti
Tak ada ketak blondo dengan rumput laut kehijauan yang asinnya bikin ngilu.
Meski Jogja juga sudah tak seromantis lagunya KLA Project.
Kekerasan kadang mucul tak terduga, seperti yang terjadi kemarin dulu. Penembakan sadis dan serampangan.
Imbas dekatnya markas tentara baret merah dari kota yang kamu agung-agungkan itu.

Tapi aku tak memaksamu.
Untuk menyintai Jakarta layaknya aku.
Karena irama kita telah beda, nafas kita tak senada.

Atau.. jangan-jangan  aku telah jatuh cinta lagi...

Karena... tak ada cinta yang abadi.


Kecuali kita merawatnya, dengan sepenuh hati.
Hingga bisa berakhir sampai ujung waktu,
seperti lagu yang serak dinyanyikan oleh Duta.
yang kasetnya kau simpan dekat kitab suci.
Yang  tiap bait syairnya sering kau lafalkan khusuk,
 saat  dini hari.


kali kesembilan

“Anjing!! Serahin enggak!!??”
“Mati Aja lo!!”
“Bruk.. Duess!!.. Brak!!”

Kali ini aku bertemu lawan.
Dua kali jotosanku seperti tak dirasakannya. Bantinganku seperti membanting karet ban. Selalu mental, lalu bangun dan membalas setiap seranganku.
Lelaki yang sedianya ku palak itu ternyata melawan sengit.
Tak seperti yang kemarin, setiap  todonganku memberi hasil.
Kali ini aku ketemu batu. Badik yang kutodongkan ke pinggang ditepisnya cepat, lalu aku di dorong setengah dibanting.
Untung aku sigap.
Kakiku mencelat berputar setelah menindak tanah langsung sebat ku arahkan ke perutnya.
Rupanya laki-laki itu siaga, dengan ringan digeser posisinya.
Kakiku menerpa angin. “Sial!” Umpatku.
Bahkan aku yang gantian di serang. Sikutnya menghujam ke muka. Kutangkis dengan dua telapak tangan yang kutangkupkan. 

Aku benar-benar gemas. Harus  segera kuakhiri perlawanannya.
Kuhentakkan kaki 3 kali ke tanah. Lelaki itu tampak terhuyung. Kali ini kugunakan ilmu dari moyangku. Tanah bakal seperti tergoncang laksana digebalau gempa saat kuhentak ilmu leluhur ini.
Benar saja, lelaki itu terhuyung kehilangan konsentrasi.
Tak boleh kulewatkan kesempatan yang tak lama ini.
Dengan gemas kuraih  badik di tanah, dan secepak kilat kuhunjam ke dadanya.. “Jless!”
Darah mengalir deras dari dadanya. Matanya melotot, lalu rubuh.. “Brukk”
aku sendiri limbung, sempoyongan berapa tindak ke belakang.
Butuh beberapa menit agar seimbang.
Baru  kurasa kuda-kudaku kuat,  tiba-tiba terdengar
“DORR!”
Sebuah tembakan menerpa dadaku.
Dalam sekejab semua gelap.

#

Kucoba membuka mata,
tetapi terasa sangat silau.  Mataku harus beradaptasi dengan ruangan yang remang-remang.
Dimanakah ini?
Tak mungkin di neraka. Tidak terasa panas, seperti cerita ustad jaman kecil saat ngaji di mushola dulu soalnya. Atau komik surga neraka yang menjadi santapanku saat membaca buku di perpustakaan masjid kampung.
Tak mungkin juga di surga. Bajingan sepertiku sangat tidak layak masuk surga, dimana orang baik-baik yang bakal jadi penghuninya.
Saat coba ku gerakkan tanganku, tidak bisa. Rupanya ada yang mengikat erat tangan, juga kakiku.
Kali ini para petugas tengik itu tak mau lengah sepertinya.
Beberapa waktu lalu aku sempat  kabur dari rumah sakit akibat bertempur didalam penjara. Dua orang mati, satu di antaranya ditanganku. Sedangkan aku sendiri terluka parah di bawah lengan.
Sepertinya untuk kali kesembilan, aku bakalan menghuni sel pengap itu.

Lagi...



@seblat | depok | 2013 awal