blog yg lain

Tuesday, September 17, 2013

Lelaki Pembeli Cinta

Hujan masih menyisakan rinai lembut.
Hanya manusia malam yang masih menghiasi sudut-sudut remang.


Beberapa kendaraan sesekali melintasi jalanan yang basah oleh sisa hujan.
Gerobak pedagang kaki lima berdecit memecah kesunyian.
Senyum sumringah sang pedagang usai menghitung untung dari dagangan yang laku barusan. “Malam keberuntunganku sepertinya” desis lelaki itu sambil melanjutkan langkah pulang. Terbayang senyum istri menghitung lembar rupiah yang bakal masuk ke tabungan. Tak terlihat rasa letih meski harus menarik gerobak pecel lele beserta tenda yang diletakkan diatasnya. Cinta sederhana yang ia semai bersama istri yang kalau anaknya sedang tidak sakit pasti ikut mendorong gerobak reot itu.


Sudut lain,
Sebuah kafe mungil menawarkan persinggahan untuk pasangan kekasih yang sedang kasmaran. Menghabiskan malam minggu sambil menganyam rasa, dan membuang uang tentu saja. Yah, tak ada yang gratis untuk kesenangan, apalagi di kota seperti Jakarta.


Sepasang pecinta terlihat masyuk di pojok remang-remang .. Menikmati musik pelan yang merebak menyelusup nalar, yang dinyanyikan oleh gadis jelita. Penyanyi bintang di kafe itu. Keduanya seperti terlena.
Tangan mereka erat saling menggenggam...
Tautan mata saling melikat.
Seperti saling mengukur kedalaman ceruk hati masing-masing.


Senyum di bibir sang gadis, membentuk garis indah di bibirnya yang berbalut lipstik tipis.
Tetapi senyum itu seperti tertahan.. menahan duka yang semburat berusaha diredam.
 
“Apakah salah dengan perasaanku”, gumamnya pelan.

Laki-laki itu tertunduk.
“tak ada yang salah. Hanya, mungkin terlambat”.

"Adakah cinta yang terlambat? Adakah hati yang salah karena mencintai? Meski yang dicintai telah memiliki tambatan di seberang. Ahh... Ahh” gadis itu mengeluh.


Tatapan laki-laki itu getas.

 Gadis di depannya. Dengan senyum tertahan, meski tetap menawan.
”Atau aku harus menculik kamu sayang. Adakah keberanian dalam hatimu? Meninggalkan sarang mungil dengan gadis bermata bening”
Gadis itu menggumam.


Laki-laki itu menggeleng pelan. Wajahnya pias.
 “Akupun tak memungkiri perasaan ini. Tak memungkiri rasa yang larat ini. Larat tetapi indah saat menatap wajahmu, merengkuh hangat tubuhmu”.
laki-laki itu berbicara pelan, sambil menggenggam jemari sang gadis.


Kembali suasana sunyi..
Lagu sudah berhenti.. hanya nafas yang tertahan melingkupi malam yang makin temaram..


“Sudah hampir pagi.. Ayo pulang, ada anak-anak yang menungguku di rumah".
Laki-laki itu berkata lirih, kemudian menyelipkan amplop ke dalam tas si gadis.


 Si gadis mengerjabkan matanya...

Keduanya berdiri...


Tiba-tiba, segerombolan orang tampak mendekat ke arah mereka. Lalu dengan cekatan meringkus lelaki itu.


Tentu saja sang gadis terperanjat. Wajahnya memucat.


“Ada apa ini?’teriaknya histeris.

“Tenang saja nona, lelaki ini kami tangkap!”

“Tolong serahkan tas anda nona!”

“Anda harus ikut kami ke kantor!”

#
Tak lama kemudian, twitter riuh dengan  berita penangkapan terduga koruptor di sebuah kafe, sedang berkencan dengan perempuan yang diduga selingkuhannya.
Didalam tas si perempuan ditemukan uang tunai  50 juta.


depok 17 september 2013

Friday, July 26, 2013

Pertarungan Terakhir



Pukulan itu kembali terayun.
”Blughh!!”
Tepat di ulu hatiku…
Cairan kental muntah dari mulutku.
Belum lagi aku luruh. Sebuah tendangan melontarkanku keatas disusul tonjokan yang membanting tubuhku ke samping.

”Bruggg!!”

Aku berdebam keras.
Mulutku menghantam lantai.
Asin terasa di bibirku yang rengkah.

Aku tak bisa menghindari pertarungan ini.
Karma  yang harus ku genapi.
Takdir yang harus ku hadapi.

Segera kubersiap.
Yang harus kulakukan adalah merangkak bangun lalu kembali pasang kuda-kuda.
Tetapi aku kalah cepat.
Diinjaknya punggungku sambil mengayunkan pukulan bertubi ke belakang kepalaku. Kali ini aku tak diam.
Liat kucoba melempar tubuh kesamping.
Pukulan berhasil kuhindari. Tetapi kakinya justru mendapatkan sasaran empuk.
Perutku diinjaknya keras-keras.
”Wuekkkkkk!! Crottttt!!”
Sekali lagi mulutku memuntahkan gumpalan-gumpalan cair agak pekat.
Mataku sudah kabur.
Tetapi masih ada sisa-sisa kesadaran.
Aku harus melawan.
Kalah menang urusan belakang.
Rupanya mahkluk itu sedikit berbelas kasihan padaku. Dihentikan hajarannya.

Itu memberiku kesempatan untuk mengatur nafas, sambil menyeka darah dari mulut yang sudah tak jelas bentuknya ini.
Kupaksa bangkit dengan melompat, dan berhasil.
meski tindak kakiku masih limbung. Harus mengayun tangan kiri kanan agar seimbang.
Samar kutatap wajahnya.. diantara darah yang nyiprat masuk mataku.. Kutatap wajah itu.. Wajah makhluk yang tanpa ba-bi-bu menghajarku…
Kulihat wajah itu… 
Adalah wajahku sendiri..
Ah.
Meski terkejut, aku mencoba tenang.
“Jangan cengeng dan mengasihani diri sendiri!!” katanya sambil terkekeh… 
Mirip tokoh-tokoh jahat dalam sinetron misteri.

Kulihat makhluk berujud diriku itu memegang tali di tangannya.
Aku siaga. Segala kemungkinan bisa terjadi.
Tiba-tiba ia melompat, cepat sekali.
Aku mencoba menghindar, tetapi limbung.
Tangannya menyentakkan tali tepat di leherku.
Ku tahan dengan tanganku agar tak segera menjerat.
Lalu kami adu kuat. Kakinya meruntuhkan sisa kekuatanku, saat sebuah tendangan terayun tepat di ulu hati. “Duggh!!”
Aku menggelepar, saat tali itu sepenuhnya menjerat leherku. Oksigen terakhir kuhirup lahap.
Sampai kemudian sekejab semuanya gelap.


#
Saat kembali terang, aku seperti melayang.
kulihat diriku dibawah, tergantung di tiang.
Orang-orang berteriak, mereka kawan-kawan dekatku.
Mencoba memberi pertolongan.
Tali yang menjerat leher diputus, lalu jasadku dibawa ke sebuah ruangan, untuk coba diberikan pertolongan. Tetapi sepertinya semua sia-sia.
Aku sudah disini, di lorong penuh cahaya.
 Terbebas dari raga yang menyiksa itu.
Terbebas dari kejaran dan teror ke ‘aku”an yang membuatku jadi gila.



@seblat | depok | 2013

Wednesday, July 24, 2013

Lelaki yang Menggumam


Dua kali aku melihat lelaki itu.
Pertama kali, saat aku makan di warteg ujung jalan Pemuda. Keduanya hari ini.
Saat aku baru saja meletakkan pantat di bangku depan bengkel dimana aku biasa servis motor.
di bahunya “terselampir” dua buah kursi kayu model tinggi, sepertinya kursi multifungsi sekaligus tangga mini. Biasanya kulihat kursi itu di toko-toko kelontong atau toko sepatu yang sekarang rata-rata sudah “tewas” tergusur minimarket dan mall.

Dari mulutnya lamat ku dengar ia menggumam, “kursi...  Kursi..!”
suara yang kemudian tenggelam oleh riuhnya lalulintas Margonda.
Ia melafalkan  nada suara itu barangkali dari ujung Margonda sana.
Sampai kemudian melintas di depanku. sambil membawa dua  buah kursi.
Lalu, yang  kemudian terlintas di benakku adalah, efektifkah caranya itu?
Ia menawarkan dagangan sambil berjalan acuh.
Suaranyapun tak jelas ditujukan kepada siapa…
Saat berjalanpun,  kelihatan ada di pinggir jalan raya. Tidak di trotoar, jadi kemungkinan orang mendengar apa yang dikatakan juga sangat tipis.
Apalagi suaranya yang datar itu di “adu” dengan raungan kenalpot kendaraan yang ramai menyesaki margonda.
Ekpresi wajahnya juga... Kulihat datar.
Tak ada ekpresi penuh gairah layaknya orang menawarkan produk yang harus laku.
Ekpresi kegairahan seorang marketing kaki lima yang selama ini sering kujumpai di pasar-pasar, semisal pedagang obat atau alat elektronik, tak kulihat  dari caranya..
Lakukah dagangannya?
Belum lagi beban dua kursi itu lumayan berat.
Barangkali Tuhan punya mekanisme pembagian rejeki buat semua orang, termasuk lelaki itu.
Buktinya  ia masih berjualan dengan caranya.
Tentunya ia melakukan itu bukan hari ini dan kemarin saja.
Bisa jadi sudah bertahun-tahun
Tetapi,  tetap aneh saja menurutku.
Juga, sangat tidak efektif..
Ah.. Lelaki itu  sudah hilang dari pandanganku.
Ternyata meski kelihatan lambat, lesat juga langkahnya.
Atau mungkin aku yang kelamaan melamun.
Jangan-jangan  sudah sampai di depan warteg  tempatku makan kemarin di jalan Pemuda sana.. 
Pastinya, masih sambil menggumam…” Kursi..Kursii!! “
@seblat

Wednesday, July 17, 2013

JOMBLO





Sebuah pertemuan, 
yang sebenarnya tidak disukai oleh lelaki itu. 
Di senja yang tiris oleh hujan, di sebuah kafe yang lindap. 
Tepi malam terasa atis, dan ia akan bertemu dengan perempuan itu. 
Bahkan ia tak bisa berharap kehangatan lagi dari perempuan itu, meski hanya sepagut cium, atau peluk hangat.
Sebenarnya ia sudah menolak dengan halus, tetapi nada suara perempuan di dalam telepon, memaksanya. 
“Aku kangen.” katanya manja..
Dengan suara yang masih  seperti waktu lalu. Tiga tahun silam. Suara yang menyihir kesadarannya, lalu huyung dalam ngungun kepanjangan.

Yah,
Perempuan itu datang dari masa lalunya. 
Perempuan yang pernah membuatnya nyalang dalam dendam. 
Perempuan yang memompakan semangat untuk meruntuhkan segala dalih. 
Segala keinginan yang dimasa lampau tak bisa ia berikan. Perempuan yang mengajarkan rasa sakit yang amat sangat. Saat kemudian  perempuan itu memilih berlalu dari hidupnya. 
Hidup yang sudah direka berdua, yang dengan enteng dilantakkan. Merobohkan  pengharapan akan kehidupan yang pernah mereka rencanakan  berdua.  Semua itu karena kehadiran sosok lain yang mampu memberi lebih. 
Memberi kehidupan di masa depan yang tak bakal sesulit kalau dilewati dengan dirinya. 

Hidup kemudian bergulir menjadi upaya pembuktian.
 Menjadi fragmen muram yang ia rajut dengan nafas dendam.
Dengan satu tujuan. Sebuah pembuktian.
 Ia bisa lebih dari lelaki pilihan sang perempuan tersebut. 
Juga pilihan orang tua si perempuan yang pernah menatap sinis padanya.
Dendam menjadi penyulut lelaki tersebut. 
Dendam, membuat ia kesetanan. mengerahkan segala daya kreatifitasnya. 
Segala kemampuan yang pernah ia dapat dari kampus ataupun guru yang bernama kehidupan. 
Yang terangkum dari pengembaraannya selama ini.
Sampai kemudian ia menemukan “garis putih” yang menjadi pilihan hidupnya kini. Menjadi pedestrian hidup yang saat ini telah menampakkan hasil.
Malam ini sebenarnya ia bisa pongah. 
Menunjukkan segala yang telah ia dapat. 
Menunjukkan tepat dimuka perempuan yang pernah menghinakannya. 
Perempuan yang mencabik dan meruntuhkan balok-balok nasib yang ia susun susah payah.

Jam menunjuk angka delapan malam.
Perempuan itu belum muncul juga. 
Empat batang rokok berserak di asbak, dua gelas kopi hitam tandas. 
Sampai kemudian perempuan itu meneleponnya. 
Mengabarkan ia terjebak hujan yang turun di sekitar kantornya.
Memohon ia untuk mau menunggu.

laki-laki itu termangu.
 Lalu menyapukan pandangan di remang kafe yang sedang memamerkan  lukisan abstrak.
”hmm.. Kenapa aku jadi bodoh seperti ini? Kenapa aku masih mau menunggu dia? “
Laki-laki itu bergumam pelan.
Memang, ia bisa pongah. Bisa menunjukkan keberhasilannya. 
Tetapi untuk apa? Untuk menghinakan? Untuk membuat perempuan itu tersayat? Untuk membuat perempuan itu menyesali pilihannya? 
“Naif!!” Umpatnya dalam hati..
setelah ia bisa menunjukkan dan membuat perempuan itu menyesal, lalu apa yang didapat? kepuasan?..Kebanggaan?! 
“Tolol aku!” umpatnya dalam hati.
Laki-laki itu bergerak dari duduknya, kemudian keluar dari kafe setelah menyisipkan uang disela gelas minuman. Beranjak meninggalkan pertemuan yang dirancang oleh mantan kekasihnya. Beranjak dari arena pamer keberhasilan yang akan ia gelar. 
Terbayang dalam benaknya segala upaya yang telah ia lakukan.
 Itu semua berawal dari dendam.
 Dari kesumat yang “diciptakan” oleh perempuan itu.
Seharusnya ia justru harus berterimakasih dengan perempuan itu. 
Tanpa dia, takkan dijalaninya hidup dengan bara api. 
Dengan semangat yang membuat larik-larik waktunya berlari dengan cepat dan menggeliat penuh semangat.
Yah.. Hidupnya yang dinamis. 
Segala tantangan disambutnya dengan nafsu dan semangat meluap-luap.. 
Itu semua karena semangat pembuktian..
Dan baranya adalah... “Dewi cinta” yang mematahkan sayapnya..
Ia tersenyum sendiri menyadari kebodohannya.
Kemudian berlalu. Memanggil taksi yang membawanya menuju sebuah rumah kecil di tepi sungai Ciliwung..

#
Ia menemuiku..
Untuk menceritakan semuanya. 
Berteman empat  botol bir dan sebotol vodka tentu saja.
Sambil tertawa-tawa.. 
Mentertawai diri sendiri..
Cerita kami terhenti sejenak, saat sebuah SMS masuk. “Zal, rudi ketempatmu tidak? Kami janji ketemuan, tapi dia tak sabar menungguku” 
Sang “Dewi Cinta” itu menanyakan arjunanya yg teler berat di depanku.
“Dewi cinta yang membuat Rudi, sobat kentalku ini memilih jomblo sampai saat ini. 
Sang “Dewi Cinta” yang sudah tiga bulan ini berselingkuh denganku. 
Menduakan suaminya yang kaya raya, tetapi alpa pulang kerumahnya.


@seblat| Tepi Ciliwung


Tuesday, July 16, 2013

Cinta Belum Berakhir



Wajah itu seperti kukenal.
Dalam batas jarak pandangku, kulihat ia di seberang jalan.
Berdiri di halte yang terletak persis di seberang apartemen. Dengan baju yang tak asing di ingatanku. Sayang hujan lebat menghambatku untuk berusaha mendekatinya.
Kuyakinkan sekali lagi pengelihatanku.
Tetapi sosok itu telah hilang.

Kedua kalinya kulihat perempuan  itu. Tampak duduk di dalam kafe langgananku. Saat itu aku akan keluar meninggalkan kafe.  Kulihat di selasar depan, di kursi pojok kiri. Tempat yang sering kupilih untuk menyendiri saat memang sedang ingin sendiri. Perempuan  itu tampak menempatinya. Kami sempat bertatapan  sejenak. Kuyakinkan bahwa ia memang perempuan yang pernah begitu istimewa, bersemayam di hatiku.
Tetapi, lagi-lagi, rasa sakit ini membawa kakiku menjauh.
Menggiring langkah bergerak cepat.
Saat kutengok ke belakang setelah aku sampai di bibir jalan.
Lagi-lagi.. Sosok itu menghilang.
Kulirik jam, sudah diangka 2.04 WIB. Mana mungkin anak itu keluar jam segini. Setahuku, ia dulu suka kelayapan sampai pagi ya hanya denganku.
Ah, sudah lah, sebuah taksi melintas dan tanganku spontan melambai. Tahu-tahu aku didalamnya dan melesat menuju pinggiran Jakarta menuju tempat tinggalku.
Pertemuan ketiga. Kali ini aku menemui perempuan  itu di bandara, saat akan terbang menuju Surabaya. Tepatnya di restoran cepat saji yang lagi-lagi adalah… tempat dimana dulu aku pernah menunggu dia.
Saat aku dengan sekantung donat. Menunggu pesawat yang ditumpanginya,  yang ternyata terlambat datang.
Di deretan depan kursi keperakan itu. Dengan mulut yang tak berhenti mengunyah karena menahan tegang yang amat sangat. Kegelisahan laki-laki yang takut gadisnya mengalami celaka.
Ia sekarang terpekur disitu. Lagi-lagi, perasaan sakit ini yang menahan kakiku mendekatinya.
Aku menghambur cepat meninggalkan sosoknya sambil menyeret bawaanku yang lumayan berat. Pesawat segera berangkat.
Dalam perjalanan didalam taksi dari Juanda menuju Surabaya kota, baru terpikir olehku, ada yang aneh dalam setiap perjumpaanku dengannya. 
Perempuan  itu menampakkan diri di tempat-tempat dimana aku dulu pernah mempunyai kenangan dengannya. Baik kenangan pahit ataupun manis. Kuingat-ingat. Pertama kali ia menampakkan diri di depan apartemen adalah tempat dimana kami dulu pernah bertengkar hebat. Halte depan apartemen dan hujan yang mengguyur hebat. Hmm.. sebuah kebetulan yang ajaib. Saat di kafe itupun. di tempat biasa aku menenggelamkan diri. Ia datang di suatu malam. Menemuiku menyampaikan kabar itu. Kabar yang melantakkan semuanya. 
Kemudian terakhir, di bandara.
rasa penasaran ini membuatku merogoh saku jaket. mengeluarkan HP dan memencet nomer seluler. Suara “tut..tut...”  menandakan HP tidak aktif. Kuingat, nomor lain yang bisa kuhubungi. Ya.. nomer rumahnya. tetapi…. Ah, kusingkirkan rasa ragu dihati, yang sempat meruyak dari kemarin.
Yang selalu menahan langkahku menemuinya.
Bukan kaki ini yang malas menemuinya. Tetapi sepertinya hati ini yang masih terasa seperti disayat.
Kupencet nomor rumahnya.. Nada mengisyaratkan tersambung, kemudian ada yang mengangkat telepon. “Assalamualaikum!” Sapaku sopan. “Waalaikum salam…” suara lembut di seberang. sebertinya suara bunda. 
“Saya Rizal bu” aku menguluk diri. Tak kudengar jawaban dari seberang telpon. Diam… Lumayan lama, sepi mengepung percakapan yang coba kubangun. Kemudian, terdengar tarikan nafas dalam disusul suara isak… Isak tangis tertahan. “Nak Rizal sudah tahu kalau Nita meninggal?”

Aku tercekat…
Kakiku mendadak lemas...


@seblat

Monday, July 15, 2013

Cerita Lelaki




Enam botol bir itu sudah tandas isinya.
Mata kami tak juga meredup, justru tambah liar.
Temaram lampu menyamarkan wajah gadis-gadis itu.
Lekuk tubuh mereka saja yang menari-nari di mata ini.
Bondan sudah “naik” sepertinya. Dengan sigap direngkuhnya gadis langganannya itu.
“aku naik dulu ya..”
katanya sambil cengengesan, meninggalkan kami.

Tejo meneruskan menyanyi.
Suara cemprang tak masalah, orang mabuk gini.
Bir datang lagi, empat botol. Ditenteng Sari, Purel Langganan Tejo yang lumayan montok dengan body “renaissance” nya.
Suasana berubah menjadi klasik.
Seperti kembali ke abad pertengahan.
Sari mendekap Tejo yang seperti kesurupan nyanyinya.
Keduanya berciuman dengan ganas.
Aku seperti melihat Monalisa mencumbu Basquiat.
Lelaki dengan rambut gimbal bercumbu dengan gadis montok berambut lurus. Bercumbu dalam irama musik metal… Mellow Total khas band-band indonesia terkini.
Aku menyambar mike, meneruskan nyanyi.
Tentunya tetap dengan suara tak karu-karuan.
Dan.. Bir…
Tambah lagi...
Tambah lagi… Lagi…
Lupa sudah wajah anak dan istri. Ingatan tentang pernikahan. Juga anak-anak di rumah yang menunggu ayahnya pulang.
Lelaki, selalu punya pembenaran untuk semua yang dilakukan. 
Toh, kami tak pernah menggadaikan cinta.
Hanya pemenuhan syahwat.
Seperti saat lapar, kami makan. Saat haus kami minum.
Syahwat pun demikian, saat butuh membuang sperma, di belilah lubang pembuangan itu. 
Istri?
 Waduh.. ia terlalu agung untuk sekedar sebagai alat buang hajat.
Juga saat suntuk di tengah pekerjaan yang seperti menyeruduk.
Membanting dan menguras tenaga. 
Kami butuh pelampiasan.
Dan teriak-teriak seperti ini tak mungkin dilakukan dirumah. 
Harus jaim di mata anak-anak.
Karena kami adalah bapak teladan di mata mereka.
Kami harus terlihat tegas tapi lembut dan hangat. 
Ah.. sudah lah..
kami sedang menikmati kemerdekaan curi-curi ini.
Kebetulan juga, uang yang kami hamburkan adalah uang haram.
Uang panas yang tak jelas asalnya, yang tak baik kalau kami bagi dengan anak dan istri.
Jadi… reguk lagii.
Pagut lagi….
Sampai pagi…
Sampai keringat susut, dan kami membersihkan diri.

Memakai minyak wangi lagi.
Sehingga istri tak curiga dan anak mau memeluk ayahnya. 
Menyambutnya bak pahlawan yang pulang kecapean karena lembur menyelesaikan pekerjaan.

@seblat | November 2008

Dongeng kematian




Tujuh langkah terakhir dari orang-orang yang mengantar kematiannya masih terdengar. 
Juga Isak keluarga dekatnya, saat jasadnya ditimbun tanah. 

Sampai kemudian semua mendadak berubah, Tanah sempit itu mendadak melebar. Kemudian dari dalam tanah muncul tembok yang menyekat membentuk bangunan rumah. Diujung ruangan secara ajaib muncul seperangkat meja kursi dengan makanan yang terhidang diatasnya. tempat ia ditidurkan pun sekarang berubah menjadi ranjang empuk yang nyaman.
Inikah alam kuburnya? Inikah balasan Tuhan atas apa yang ia perbuat selama ini?

Saat kesadarannya belum sempurna, lamat ia dengar suara tangis. 
Rupanya penghuni bangunan disampingnya. Dilongoknya dari jendela rumah, bangunan tempatnya tinggal saat ini. Seseorang tampak meringkuk di pojokan. 
Disapanya orang itu, “Kenapa kok nangis?” Orang itu melongokkan wajahnya. terlihat karut. “aku lapar.. tapi makanan yang muncul selalu basi, tak bisa kumakan..” Ratapnya sedih. Merasa iba, diambilnya jatah makanannya unutk diberikan ke orang itu. Tetapi ajaib, Ia tidak bisa memasuki wilayah orang itu. Seperti ada sekat tak terlihat yang menahan langkahnya.
“Sudah 10 Tahun aku disini..makananku selalu basi” orang itu terbata-bata menceritakan nasibnya.

matanya berkaca-kaca. 
Saat itu tiba-tiba, ruangan nya yang tadi agak redup perlahan mulai terang benderang.
Sementara ruangan tetangganya yang selalu dapat makanan basi itu menggelap. kemudian menyempit.. Menghimpit sang penghuninya yang tak bisa berbuat apa-apa..Hanya berteriak pilu.

Tak kuasa ia melihat pemandangan itu. kemudian kakinya melangkah keluar. Seperti ada yang menggerakkan, kakinya berjalan ke arah samping kanan. disitu ada bangunan besar dengan taman yang indah. dilihatnya sang penghuni sedang duduk di tengah taman.
Wajahnya berseri-seri. Pohon buah beraneka jenis tumbuh dan merunduk seolah meminta untuk dipetik dengan buah-buah yang segar. betapa bahagia orang itu. makanan lezatpun melimpah di mejanya. 
Hatinya bergetar gembira melihat pemandangan itu. meski tak semewah rumah orang itu. Rumahnya sekarang juga terlihat bagus, walau lebih sederhana.
Kemudian ia melangkah lagi. di seberang jalan ia melihat pemandangan yang memilukan. Seseorang tampak terhimpit tanah. matanya melotot dengan urat menguar dimuka dan lehernya. 
Tak ada keluhan yang muncul dari mulutnya, karena mulutnya tampak terbuka dengan lidah menjulur. 
Sepertinya rasa sakit tak bisa digambarkan lagi..
Terbata ia bergegas…. 
Lari tanpa melihat arah.. 
Pontang-panting kaki berlari. 

Di perjalanan macam-macam hal dilihatnya.
 Orang-rang yang menerima balasan atas apa yang diperbuatnya selama hidup. 
Ada yang terlihat gembira. 
Ada yang tersiksa tiada tara.
Sampai akhirnya ia tiba rumahnya sendiri. 
Kemudian ia masuk kedalam rumahnya. 
Hatinya masih tercekat dengan semua pemandangan yang dlihat barusan. 
Tiba-tiba ia teringat anaknya. Ingin sekali ia menceritakan apa saja yang dilihatnya.
Seandainya ia bisa hidup lagi. 
kembali ke kehidupan dunia. 
Komat-kamit mulutnya membaca doa.
Agar bisa hidup lagi. 
Bertemu anaknya. 
Menceritakan semuanya.
Semuanya..

Setelah tiga hari berdoa, keinginannya rupanya dikabulkan. 
Atap rumahnya tiba-tiba terbuka. Reruntuhan tanah mengenai wajahnya. Ia menggerakkan tubuhnya yang kembali terbungkus kafan. 
Dilihatnya wajah anak terkasihnya terperanjat. 
“emak hidup lagi.. emak hidup lagii!!” teriak anaknya, diiringi wajah-wajah tegang dan terperangah dari orang-orang yang membantu membongkar makamnya.
Akhirnya ia kembali kerumahnya. 
Di rumah, anaknya bercerita, kalau semenjak emaknya di kubur. empat hari setelah itu ia bermimpi emaknya meminta ia untuk membongkar kubur. Karena penasaran dengan mimpinya akhirnya ia bongkar. 
Ternyata benar. emaknya hidup lagi.
Orang-orang kampung berkumpul di rumahnya, termasuk sang Buya yang terhormat. 
Tuan Guru yang selama ini menjadi pemuka agama di kampungnya.
Mereka duduk melingkar. Siap untuk mendengakan ceritanya selama empat hari menghuni alam kubur.

Akupun turut mendengar cerita itu, meski cuma dari mulut kakakku, yang juga mendapatkan cerita dari teman kerjanya, yang kebetulan satu kampung dengan nenek itu.
Nenek yang merasakan kehidupan kedua.
Kemudian kutulis cerita itu, untuk kubagi disini


@seblat | Depok | Desember 2009