blog yg lain

Friday, January 10, 2014

Hanya Ayah Yang Mengerti!


Hujan tak juga berhenti.
Kuhamburkan langkah berniat keluar kamar, tentu saja harus membuka pintu terlebih dahulu.
Ternyata pintu terkunci. Sepertinya dikunci dari luar.
Pasti oleh ibu.

Tapi kan, ada jendela.
Meski posisinya agak ke atas, tapi aku tak kurang akal.
Segera kususun meja kecilku ditambah beberapa buku, lalu mobil-mobilan besar kutaruh terbalik. “yupp”.
Aku mampu  meraih gorden, tinggal satu tindak, aku melompat.
“ahaaa” teriakku..
Aku nangkring di kusen jendela.
Selompatan aku sudah di halaman samping rumah.
Hujan masih deras,  dan itu membuatku kegirangan.

Lalu aku berlarian kesana kemari.
Mencipratkan air ke kiri ke kanan.  Baju-baju di jemuran belepotan lumpur, tentunya membuat aku senang.  baju putih milik ibu kulumuri dengan tanah liat, menjadi coklat. lalu aku menggambari baju ayahku, dengan lelehan lumpur membentuk binatang..
Asikkk sekali.

Tiba-tiba ibu muncul.
Mukanya terlihat marah. tanpa ba bi bu aku ditamparnya keras-keras “Pakk!!”
laluu ditendang “bluggg!!”,
sampai terjengkang.
Tentu saja aku nangis.

“Ariiiii!!!! liat apa yang kau perbuattt!! Masyaallah!! Haduhhh!”

Ibuku menggerung marah.
Diambilnya cucian yang baru saja kulukis dengan lumpur, lalu dimasukkan ke ember.
Aku masih kesakitan.
Yah, tendangan ibu cukup bertenaga.

 Tidak lama berselang, tanganku ditarik ibu keras-keras.
Aku kesakitan dan berteriak histeris. Tetapi ibu tak mau peduli.
Diseret aku ke kamar mandi. Lalu diguyuri dengan air dingin. Setelah itu baju dan celanaku dilepas, lalu diguyuri lagi. sabun cair ditumpahkan ke tubuhku, lalu diusapkan dengan kasar. Ibuku rupanya geram sekali.

Setelah sabun, giliran shampo diguyurkan di kepalaku. Diusap lagi tak kalah kerasnya. Setelah rata lalu air diguyur lagi. Sampai tubuhku bersih. terakhir, handuk kering diusap merata di seluruh tubuh dan rambutku sampai kering. tak lupa bedak yang sebenarnya  tak kusuka,  ditaburkan ke seluruh tubuh.
Baru baju kering di pakaikan ke tubuhku, disusul celana.
Setelah itu aku dikurung lagi di kamar. Kali ini ibuku tak mau lengah. Semua meja kecil, buku dan mobil-mobilanku diringkasnya, dibawa keluar.
Tak lupa jendela ditutupnya rapat-rapat..
Aku terjebak kali ini. Seperti cerita tentang tikus yang nakal. terjebak di dalam kurungan setelah gagal mengambil makanan.
Cerita tentang tikus sering dibacakan ayah saat malam menjelang aku tidur.
 “apes deh” bathinku sambil merebahkan diri.
Capek sekali tubuh ini.
Semoga ayah cepat pulang. hanya ayah yang mau tahu perasaanku. hanya ayah yang bisa kuajak bicara. hanya ayah yang tak menyiksaku. memukuliku. berteriak-teriak pun tak pernah. . Sudah lama ayah tidak pulang.
Tak lama aku terlelap

Di dalam tidur, ayah menghampiriku.
Wajahnya cerah berbaju putih, dan... Bersayap.
Seperti biasanya dia memberi perintah kepadaku.
Tanganku disuruhnya untuk dilipat, wajah ditegakkan, juga tatapan mataku.
Lalu diajarkan huruf-huruf yang awalnya susah ku eja.
Lama-lama akhirnya aku bisa. juga angka-angka kesukaanku.
Yang selalu harus kutulis sampai angka sembilanpuluh sembilan.
Sebelum sampai angka itu kalau ada yang menghentikan pasti aku akan marah.
Ayah sangat paham apa yang kuinginkan.
Tetapi tidak dengan ibu dan kawan-kawanku. 
Mereka suka tak sabaran.

Diajarkan pula cara membersihkan kotoran di sela-sela kaki saat aku buang air besar.
Juga saat pipis. Diajari aku membasuk kelaminku sampai bersih. Perintah ayah mudah sekali aku ikuti. Beda dengan ibu, yang lebih suka melakukan dengan caranya.
Aku hanya di suruh diam dan menuruti apa yang dilakukannya.

Setelah belajar, aku diajaknya berlarian ditaman yang bercahaya.
Asik sekali.
Kami main sampai puas...
Sambil tertawa-tawa...


#

Perempuan itu menekuri  buku berisi catatan-catatan yang ditulis dengan tangan.
Matanya tampak berurai air mata.
Ya, catatan yang dibuat suami tercintanya.
Suami yang dua bulan  lalu meinggal dunia setelah berjuang melawan penyakitnya.
Penyakit jantung yang di deritanya sejak masih mahasiswa.
Suami yang selama ini tekun menuntun Ari Mahendra, anak mereka satu-satunya. 
Suami yang sangat sabar memperlakukan “keistimewaan” anaknya, yang di vonis menyandang autis.

Catatan itu ia temukan di antara tumpukan baju suaminya di dalam lemari.
Baju yang kemudian ia cuci untuk kemudian akan diberikan kepada kang Acep, Tukang kebun yang membantu  bersih-bersih halaman rumahnya yang luas.
Catatan lengkap, bagaimana memperlakukan anak mereka.
Dari cara mengajak  mandi, sampai berkomunikasi  dengan cara  sederhana dan mudah dimengerti.
Catatan tentang terapi wicara yang selama ini dilakukan di sekolah ataupun dengan guru privat.
Juga terapi gerak yang disitu ditulis dengan nama okupasi.

pernah ia dengar terapi-terapi itu diceritakan suaminya, tetapi ia tak begitu perhatian. pekerjaan selau jadi alasanya. sebagai manager operasional sebuah perusahaan internasional, telah menyita hari-harinya. toh gaji besar yang ia terima bisa dipakai untuk membayar sekolah Ari yang lumayan mahal.

Diakuinya, ia memang tak sabar kala Yudi, nama suaminya itu menjelaskan apa saja yang harus dan tidak di lakukan ke Ari. Ia memasrahkan pendidikan Ari, dari mengantar sekolah sampai memandikan ke suami tercintanya. yang selama inipun sabar melayani kemanjaannya. sejak pacaran malah.
Asti yang ngambekan ini begitu telaten diladeni oleh Yudi.
Kekanak-kanakannya selalu mampu ditaklukkan oleh Yudi.
Itu yang membuatnya  mantap menikahi lelaki yang membuahinya lalu melahirkan Ari, anak mereka.

Lelaki yang terrnyata mendahuluinya.
Catatan itu sangat berarti buat Asti.
 Catatan yang mengoreksi kesalahan-kesalahan yang  dua bulan ini ia lakukan kepada  Ari anak yang dicintainya.
Catatan itu seperti dewa penolong  yang menyelamatkannya dari  keputus- asaan menghadapi  perilaku Ari .
Meski catatan itu pula yang membuat hatinya seperti diperas.
Rasa kangen amat sangat mengerubuti hatinya.
Membuat hatinya terasa kelu, tubuhnya terasa berat untuk digerakkan.
Capek sekali rasanya.

Sampai kemudian iapun terlelap, dikursi bersandar meja.
Sambil memeluk buku catatan suaminya.


Depok 9 Januari 2014

Friday, January 3, 2014

Taman Bercahaya

Yang aku ingat saat itu siang cukup terik.
Matahari seperti memanggang kepala.
Jalanan agak lengang, lalu aku menyebrang.
Dari kejauhan sebenarnya sudah kulihat motor itu, entah berapa kecepatannya.
“Brukk!!!”  kurasakan tubuhku didorongnya dengan keras.
Aku melayanggg…  lalu semua gelap.

Saat  tersadar,  dengan mata yang belum bisa melihat dengan sempurna.
Kulayangkan pandang ke sekelilingku.
“Tempat apa ini?” bathinku.
Tempat di sekelilingku terlihat bercahaya.
Meski  benderang tetapi  tidak membuat  mataku silau.
Warna-warni di semua tempat.
Saat kulihat tubuhku, tak ada cedera sekalipun.
padahal, dalam ingatanku…
Aku tertabrak motor yang melaju kencang tadi. “Hmmm”
Segera aku bangun.
Tak terasa sakit di kakiku, lalu kuayun langkah, meski tak tahu akan kemana.

Udara terasa nyaman.
Langit hitam dipenuhi cahaya banyak sekali.
Cahaya yang bergerak cepat kesana-kemari.
Ajaib!!

Jalan yang kutapak terlihat bercahaya.
Bekas tapak kaki pun memercikkan warna-warni. Indah sekali.
Perdu di sekitar jalan juga terlihat mengeluarkan cahaya. Sebuah taman yang ajaib.

“Dimanakah ini?” bathinku. “Surgakah?”

Kulangkahkan kaki menuju taman di depan.
Taman penuh cahaya. Ada kursi dan ayunan yang bercahaya.
Juga cahaya yang terlihat melayang terbang kesana-kemari membuat taman benar-benar indah.
Kuraba kursi panjang di taman yang terlihat bercahaya itu, lalu aku duduk.
Mataku tertumbuk pada pohon di seberang tempatku  duduk.

Ada buah yang juga bercahaya merimbun.
Aku belum pernah melihat jenis buahnya.
Buah-buahan itu tak hanya satu warna, tetapi ada tiga warna berpendaran. Indah sekali.
Tak mungkin buah seperti itu bisa ku temui di kebun milik pak haji di dekat rumah atau di pasar dimana aku sering belanja menemani ibu.
Tak berapa lama, kulihat ada sosok mendekat ke arah pohon.
Sosok itu memakai pakaian orange yang memancarkan cahaya hijau muda. Terlihat kontras dan indah. Aku tak bisa melihat wajahnya karena jarak yang cukup jauh.
Kulihat sosok itu mengambil buah dari pohon itu dan memakannya dengan lahap.

perutku tiba-tiba keroncongan, lalu naluriku mendorong kaki ini mendekat kearah sosok itu.
dalam jarak kira-kira empat meter baru aku bisa melihat jelas sosok itu. 
Seorang perempuan yang sudah berumur dengan wajah yang masih terlihat cantik. 
Awalnya ia terkejut melihat kehadiranku, tetapi kemudian tersenyum.
Aku ragu-ragu untuk mendekat, tetapi perempuan itu melambaikan tangannya.
Seperti ada kekuatan tak kasat aku terdesak mendekat ke arah perempuan itu.
Setelah dekat, kepalaku diusapnya.

“Kamu tak boleh lama-lama disini” kata perempuan itu.

Aku hanya diam.
Kalau boleh memilih aku lebih suka disini.
Indah sekali tempatnya. Dalam hati aku ingin membantah.
Ajaib, sepertinya  perempuan itu tahu isi hatiku.

”Kamu harus pulang” lembut suara perempuan itu kembali terdengar di telingaku.

tangan kirinya terlihat masih memegang buah yang terlihat tinggal  setengah.
melihat aku yang menatap buah di tangannya, perempuan itu berkata”kamu lapar ya?”
aku mengangguk malu.

“itu buah apa nek?” aku asal memanggil perempuan itu nenek, karena memang terlihat sudah berumur.
Wajahnya seperti tak asing dimataku.

“ini adalah buah yang tumbuh dari doa” kata si nenek

“Dari doa?” tanyaku

“Iya, dari doa anak cucuku yang sedarah denganku. Termasuk doamu “kata si nenek sambil memandang buah kemerahan di tangannya. 

Kemudian ia berkata lagi, ” buah yang berwarna kebiruan itu.
Itu buah yg tumbuh dari ilmu yang diamalkan. Saat aku masih di dunia dulu, aku tak segan berbagi ilmu. Karena itu sampai sekarang, selama ilmu itu masih diamalkan, ia akan menjelma buah berwarna biru itu.

“Lalu buah yang berwarna kuning itu darimana nek?” aku mulai berani bertanya, tanpa takut seperti tadi.

“Itu buah dari harta yang di sedekahkan saat di dunia. Amal jariyah akan menjelma buah berwarna kuning itu,” jawab nenek.

kali ini aku berani menatap agak lama ke wakah perempuan itu.
Wajahnya mirip ayah, terutama hidung dan tirus wajahnya.
Ya, ayah selama ini mengajarkanku doa-doa.
Doa yang terkirim buat semua leluhur yang dianggap sedarah. Karena menurut keyakinan ayah, doa kita akan sampai ke seluruh saudara asalkan sedarah.

Jadi ini hasilnya.
Doa itu menjelma buah-buahan di pohon yang tumbuh di taman cahaya.
Lalu buah itu menjadi makanan para penghuninya. Juga ilmu yang diamalkan, dan harta yang di sedekahkan. “Hmmm…”

“kamu harus pulang, le?” kali ini suara perempuan itu terdengar tegas.
Tangannya tiba-tiba diletakkan di kepalaku, lalu aku seperti  jatuh melayang.
Di bawah kulihat tubuhku rebah di pinggir jalan, dikerumuni banyak orang.
Aku jatuh tepat diatas tubuhku sendiri.
Lalu semua gelap.

#
Saat tersadar aku masih dalam kerumunan.
Mataku kali ini silau oleh matahari yang terik menyengat diatas kepalaku.
Lalu aku mencoba berdiri,  dengan kepala yang terasa berdenyut.
Beberapa orang membantu aku bangun. Orang-orang berteriak saat tahu aku tersadar.
Sepontan ada yang menyodorkan minuman kepadaku.
Tetapi aku menolak. Hari ini aku puasa.
Lalu kuperhatikan sekujur tubuhku.
Tak ada luka yang parah.
hanya kepalaku yang terasa sangat pusing.
Juga darah yang terasa dingin di bagian belakang kepala.

Beberapa orang membujukku untuk dibawa ke rumah sakit.
Tetapi aku tidak mau.

Aku ingin segera pulang untuk  bertemu ayah.
Menceritakan pengalamanku barusan.

#
Kampung Sawah heboh,
Seorang anak SD mendadak bisa menyembuhkan segala penyakit.
Orang menyebutnya “Tabib Tiban”.


depok 2013
postingan ulang, pernah di posting di kompasiana

Tuesday, September 17, 2013

Lelaki Pembeli Cinta

Hujan masih menyisakan rinai lembut.
Hanya manusia malam yang masih menghiasi sudut-sudut remang.


Beberapa kendaraan sesekali melintasi jalanan yang basah oleh sisa hujan.
Gerobak pedagang kaki lima berdecit memecah kesunyian.
Senyum sumringah sang pedagang usai menghitung untung dari dagangan yang laku barusan. “Malam keberuntunganku sepertinya” desis lelaki itu sambil melanjutkan langkah pulang. Terbayang senyum istri menghitung lembar rupiah yang bakal masuk ke tabungan. Tak terlihat rasa letih meski harus menarik gerobak pecel lele beserta tenda yang diletakkan diatasnya. Cinta sederhana yang ia semai bersama istri yang kalau anaknya sedang tidak sakit pasti ikut mendorong gerobak reot itu.


Sudut lain,
Sebuah kafe mungil menawarkan persinggahan untuk pasangan kekasih yang sedang kasmaran. Menghabiskan malam minggu sambil menganyam rasa, dan membuang uang tentu saja. Yah, tak ada yang gratis untuk kesenangan, apalagi di kota seperti Jakarta.


Sepasang pecinta terlihat masyuk di pojok remang-remang .. Menikmati musik pelan yang merebak menyelusup nalar, yang dinyanyikan oleh gadis jelita. Penyanyi bintang di kafe itu. Keduanya seperti terlena.
Tangan mereka erat saling menggenggam...
Tautan mata saling melikat.
Seperti saling mengukur kedalaman ceruk hati masing-masing.


Senyum di bibir sang gadis, membentuk garis indah di bibirnya yang berbalut lipstik tipis.
Tetapi senyum itu seperti tertahan.. menahan duka yang semburat berusaha diredam.
 
“Apakah salah dengan perasaanku”, gumamnya pelan.

Laki-laki itu tertunduk.
“tak ada yang salah. Hanya, mungkin terlambat”.

"Adakah cinta yang terlambat? Adakah hati yang salah karena mencintai? Meski yang dicintai telah memiliki tambatan di seberang. Ahh... Ahh” gadis itu mengeluh.


Tatapan laki-laki itu getas.

 Gadis di depannya. Dengan senyum tertahan, meski tetap menawan.
”Atau aku harus menculik kamu sayang. Adakah keberanian dalam hatimu? Meninggalkan sarang mungil dengan gadis bermata bening”
Gadis itu menggumam.


Laki-laki itu menggeleng pelan. Wajahnya pias.
 “Akupun tak memungkiri perasaan ini. Tak memungkiri rasa yang larat ini. Larat tetapi indah saat menatap wajahmu, merengkuh hangat tubuhmu”.
laki-laki itu berbicara pelan, sambil menggenggam jemari sang gadis.


Kembali suasana sunyi..
Lagu sudah berhenti.. hanya nafas yang tertahan melingkupi malam yang makin temaram..


“Sudah hampir pagi.. Ayo pulang, ada anak-anak yang menungguku di rumah".
Laki-laki itu berkata lirih, kemudian menyelipkan amplop ke dalam tas si gadis.


 Si gadis mengerjabkan matanya...

Keduanya berdiri...


Tiba-tiba, segerombolan orang tampak mendekat ke arah mereka. Lalu dengan cekatan meringkus lelaki itu.


Tentu saja sang gadis terperanjat. Wajahnya memucat.


“Ada apa ini?’teriaknya histeris.

“Tenang saja nona, lelaki ini kami tangkap!”

“Tolong serahkan tas anda nona!”

“Anda harus ikut kami ke kantor!”

#
Tak lama kemudian, twitter riuh dengan  berita penangkapan terduga koruptor di sebuah kafe, sedang berkencan dengan perempuan yang diduga selingkuhannya.
Didalam tas si perempuan ditemukan uang tunai  50 juta.


depok 17 september 2013

Friday, July 26, 2013

Pertarungan Terakhir



Pukulan itu kembali terayun.
”Blughh!!”
Tepat di ulu hatiku…
Cairan kental muntah dari mulutku.
Belum lagi aku luruh. Sebuah tendangan melontarkanku keatas disusul tonjokan yang membanting tubuhku ke samping.

”Bruggg!!”

Aku berdebam keras.
Mulutku menghantam lantai.
Asin terasa di bibirku yang rengkah.

Aku tak bisa menghindari pertarungan ini.
Karma  yang harus ku genapi.
Takdir yang harus ku hadapi.

Segera kubersiap.
Yang harus kulakukan adalah merangkak bangun lalu kembali pasang kuda-kuda.
Tetapi aku kalah cepat.
Diinjaknya punggungku sambil mengayunkan pukulan bertubi ke belakang kepalaku. Kali ini aku tak diam.
Liat kucoba melempar tubuh kesamping.
Pukulan berhasil kuhindari. Tetapi kakinya justru mendapatkan sasaran empuk.
Perutku diinjaknya keras-keras.
”Wuekkkkkk!! Crottttt!!”
Sekali lagi mulutku memuntahkan gumpalan-gumpalan cair agak pekat.
Mataku sudah kabur.
Tetapi masih ada sisa-sisa kesadaran.
Aku harus melawan.
Kalah menang urusan belakang.
Rupanya mahkluk itu sedikit berbelas kasihan padaku. Dihentikan hajarannya.

Itu memberiku kesempatan untuk mengatur nafas, sambil menyeka darah dari mulut yang sudah tak jelas bentuknya ini.
Kupaksa bangkit dengan melompat, dan berhasil.
meski tindak kakiku masih limbung. Harus mengayun tangan kiri kanan agar seimbang.
Samar kutatap wajahnya.. diantara darah yang nyiprat masuk mataku.. Kutatap wajah itu.. Wajah makhluk yang tanpa ba-bi-bu menghajarku…
Kulihat wajah itu… 
Adalah wajahku sendiri..
Ah.
Meski terkejut, aku mencoba tenang.
“Jangan cengeng dan mengasihani diri sendiri!!” katanya sambil terkekeh… 
Mirip tokoh-tokoh jahat dalam sinetron misteri.

Kulihat makhluk berujud diriku itu memegang tali di tangannya.
Aku siaga. Segala kemungkinan bisa terjadi.
Tiba-tiba ia melompat, cepat sekali.
Aku mencoba menghindar, tetapi limbung.
Tangannya menyentakkan tali tepat di leherku.
Ku tahan dengan tanganku agar tak segera menjerat.
Lalu kami adu kuat. Kakinya meruntuhkan sisa kekuatanku, saat sebuah tendangan terayun tepat di ulu hati. “Duggh!!”
Aku menggelepar, saat tali itu sepenuhnya menjerat leherku. Oksigen terakhir kuhirup lahap.
Sampai kemudian sekejab semuanya gelap.


#
Saat kembali terang, aku seperti melayang.
kulihat diriku dibawah, tergantung di tiang.
Orang-orang berteriak, mereka kawan-kawan dekatku.
Mencoba memberi pertolongan.
Tali yang menjerat leher diputus, lalu jasadku dibawa ke sebuah ruangan, untuk coba diberikan pertolongan. Tetapi sepertinya semua sia-sia.
Aku sudah disini, di lorong penuh cahaya.
 Terbebas dari raga yang menyiksa itu.
Terbebas dari kejaran dan teror ke ‘aku”an yang membuatku jadi gila.



@seblat | depok | 2013

Wednesday, July 24, 2013

Lelaki yang Menggumam


Dua kali aku melihat lelaki itu.
Pertama kali, saat aku makan di warteg ujung jalan Pemuda. Keduanya hari ini.
Saat aku baru saja meletakkan pantat di bangku depan bengkel dimana aku biasa servis motor.
di bahunya “terselampir” dua buah kursi kayu model tinggi, sepertinya kursi multifungsi sekaligus tangga mini. Biasanya kulihat kursi itu di toko-toko kelontong atau toko sepatu yang sekarang rata-rata sudah “tewas” tergusur minimarket dan mall.

Dari mulutnya lamat ku dengar ia menggumam, “kursi...  Kursi..!”
suara yang kemudian tenggelam oleh riuhnya lalulintas Margonda.
Ia melafalkan  nada suara itu barangkali dari ujung Margonda sana.
Sampai kemudian melintas di depanku. sambil membawa dua  buah kursi.
Lalu, yang  kemudian terlintas di benakku adalah, efektifkah caranya itu?
Ia menawarkan dagangan sambil berjalan acuh.
Suaranyapun tak jelas ditujukan kepada siapa…
Saat berjalanpun,  kelihatan ada di pinggir jalan raya. Tidak di trotoar, jadi kemungkinan orang mendengar apa yang dikatakan juga sangat tipis.
Apalagi suaranya yang datar itu di “adu” dengan raungan kenalpot kendaraan yang ramai menyesaki margonda.
Ekpresi wajahnya juga... Kulihat datar.
Tak ada ekpresi penuh gairah layaknya orang menawarkan produk yang harus laku.
Ekpresi kegairahan seorang marketing kaki lima yang selama ini sering kujumpai di pasar-pasar, semisal pedagang obat atau alat elektronik, tak kulihat  dari caranya..
Lakukah dagangannya?
Belum lagi beban dua kursi itu lumayan berat.
Barangkali Tuhan punya mekanisme pembagian rejeki buat semua orang, termasuk lelaki itu.
Buktinya  ia masih berjualan dengan caranya.
Tentunya ia melakukan itu bukan hari ini dan kemarin saja.
Bisa jadi sudah bertahun-tahun
Tetapi,  tetap aneh saja menurutku.
Juga, sangat tidak efektif..
Ah.. Lelaki itu  sudah hilang dari pandanganku.
Ternyata meski kelihatan lambat, lesat juga langkahnya.
Atau mungkin aku yang kelamaan melamun.
Jangan-jangan  sudah sampai di depan warteg  tempatku makan kemarin di jalan Pemuda sana.. 
Pastinya, masih sambil menggumam…” Kursi..Kursii!! “
@seblat

Wednesday, July 17, 2013

JOMBLO





Sebuah pertemuan, 
yang sebenarnya tidak disukai oleh lelaki itu. 
Di senja yang tiris oleh hujan, di sebuah kafe yang lindap. 
Tepi malam terasa atis, dan ia akan bertemu dengan perempuan itu. 
Bahkan ia tak bisa berharap kehangatan lagi dari perempuan itu, meski hanya sepagut cium, atau peluk hangat.
Sebenarnya ia sudah menolak dengan halus, tetapi nada suara perempuan di dalam telepon, memaksanya. 
“Aku kangen.” katanya manja..
Dengan suara yang masih  seperti waktu lalu. Tiga tahun silam. Suara yang menyihir kesadarannya, lalu huyung dalam ngungun kepanjangan.

Yah,
Perempuan itu datang dari masa lalunya. 
Perempuan yang pernah membuatnya nyalang dalam dendam. 
Perempuan yang memompakan semangat untuk meruntuhkan segala dalih. 
Segala keinginan yang dimasa lampau tak bisa ia berikan. Perempuan yang mengajarkan rasa sakit yang amat sangat. Saat kemudian  perempuan itu memilih berlalu dari hidupnya. 
Hidup yang sudah direka berdua, yang dengan enteng dilantakkan. Merobohkan  pengharapan akan kehidupan yang pernah mereka rencanakan  berdua.  Semua itu karena kehadiran sosok lain yang mampu memberi lebih. 
Memberi kehidupan di masa depan yang tak bakal sesulit kalau dilewati dengan dirinya. 

Hidup kemudian bergulir menjadi upaya pembuktian.
 Menjadi fragmen muram yang ia rajut dengan nafas dendam.
Dengan satu tujuan. Sebuah pembuktian.
 Ia bisa lebih dari lelaki pilihan sang perempuan tersebut. 
Juga pilihan orang tua si perempuan yang pernah menatap sinis padanya.
Dendam menjadi penyulut lelaki tersebut. 
Dendam, membuat ia kesetanan. mengerahkan segala daya kreatifitasnya. 
Segala kemampuan yang pernah ia dapat dari kampus ataupun guru yang bernama kehidupan. 
Yang terangkum dari pengembaraannya selama ini.
Sampai kemudian ia menemukan “garis putih” yang menjadi pilihan hidupnya kini. Menjadi pedestrian hidup yang saat ini telah menampakkan hasil.
Malam ini sebenarnya ia bisa pongah. 
Menunjukkan segala yang telah ia dapat. 
Menunjukkan tepat dimuka perempuan yang pernah menghinakannya. 
Perempuan yang mencabik dan meruntuhkan balok-balok nasib yang ia susun susah payah.

Jam menunjuk angka delapan malam.
Perempuan itu belum muncul juga. 
Empat batang rokok berserak di asbak, dua gelas kopi hitam tandas. 
Sampai kemudian perempuan itu meneleponnya. 
Mengabarkan ia terjebak hujan yang turun di sekitar kantornya.
Memohon ia untuk mau menunggu.

laki-laki itu termangu.
 Lalu menyapukan pandangan di remang kafe yang sedang memamerkan  lukisan abstrak.
”hmm.. Kenapa aku jadi bodoh seperti ini? Kenapa aku masih mau menunggu dia? “
Laki-laki itu bergumam pelan.
Memang, ia bisa pongah. Bisa menunjukkan keberhasilannya. 
Tetapi untuk apa? Untuk menghinakan? Untuk membuat perempuan itu tersayat? Untuk membuat perempuan itu menyesali pilihannya? 
“Naif!!” Umpatnya dalam hati..
setelah ia bisa menunjukkan dan membuat perempuan itu menyesal, lalu apa yang didapat? kepuasan?..Kebanggaan?! 
“Tolol aku!” umpatnya dalam hati.
Laki-laki itu bergerak dari duduknya, kemudian keluar dari kafe setelah menyisipkan uang disela gelas minuman. Beranjak meninggalkan pertemuan yang dirancang oleh mantan kekasihnya. Beranjak dari arena pamer keberhasilan yang akan ia gelar. 
Terbayang dalam benaknya segala upaya yang telah ia lakukan.
 Itu semua berawal dari dendam.
 Dari kesumat yang “diciptakan” oleh perempuan itu.
Seharusnya ia justru harus berterimakasih dengan perempuan itu. 
Tanpa dia, takkan dijalaninya hidup dengan bara api. 
Dengan semangat yang membuat larik-larik waktunya berlari dengan cepat dan menggeliat penuh semangat.
Yah.. Hidupnya yang dinamis. 
Segala tantangan disambutnya dengan nafsu dan semangat meluap-luap.. 
Itu semua karena semangat pembuktian..
Dan baranya adalah... “Dewi cinta” yang mematahkan sayapnya..
Ia tersenyum sendiri menyadari kebodohannya.
Kemudian berlalu. Memanggil taksi yang membawanya menuju sebuah rumah kecil di tepi sungai Ciliwung..

#
Ia menemuiku..
Untuk menceritakan semuanya. 
Berteman empat  botol bir dan sebotol vodka tentu saja.
Sambil tertawa-tawa.. 
Mentertawai diri sendiri..
Cerita kami terhenti sejenak, saat sebuah SMS masuk. “Zal, rudi ketempatmu tidak? Kami janji ketemuan, tapi dia tak sabar menungguku” 
Sang “Dewi Cinta” itu menanyakan arjunanya yg teler berat di depanku.
“Dewi cinta yang membuat Rudi, sobat kentalku ini memilih jomblo sampai saat ini. 
Sang “Dewi Cinta” yang sudah tiga bulan ini berselingkuh denganku. 
Menduakan suaminya yang kaya raya, tetapi alpa pulang kerumahnya.


@seblat| Tepi Ciliwung


Tuesday, July 16, 2013

Cinta Belum Berakhir



Wajah itu seperti kukenal.
Dalam batas jarak pandangku, kulihat ia di seberang jalan.
Berdiri di halte yang terletak persis di seberang apartemen. Dengan baju yang tak asing di ingatanku. Sayang hujan lebat menghambatku untuk berusaha mendekatinya.
Kuyakinkan sekali lagi pengelihatanku.
Tetapi sosok itu telah hilang.

Kedua kalinya kulihat perempuan  itu. Tampak duduk di dalam kafe langgananku. Saat itu aku akan keluar meninggalkan kafe.  Kulihat di selasar depan, di kursi pojok kiri. Tempat yang sering kupilih untuk menyendiri saat memang sedang ingin sendiri. Perempuan  itu tampak menempatinya. Kami sempat bertatapan  sejenak. Kuyakinkan bahwa ia memang perempuan yang pernah begitu istimewa, bersemayam di hatiku.
Tetapi, lagi-lagi, rasa sakit ini membawa kakiku menjauh.
Menggiring langkah bergerak cepat.
Saat kutengok ke belakang setelah aku sampai di bibir jalan.
Lagi-lagi.. Sosok itu menghilang.
Kulirik jam, sudah diangka 2.04 WIB. Mana mungkin anak itu keluar jam segini. Setahuku, ia dulu suka kelayapan sampai pagi ya hanya denganku.
Ah, sudah lah, sebuah taksi melintas dan tanganku spontan melambai. Tahu-tahu aku didalamnya dan melesat menuju pinggiran Jakarta menuju tempat tinggalku.
Pertemuan ketiga. Kali ini aku menemui perempuan  itu di bandara, saat akan terbang menuju Surabaya. Tepatnya di restoran cepat saji yang lagi-lagi adalah… tempat dimana dulu aku pernah menunggu dia.
Saat aku dengan sekantung donat. Menunggu pesawat yang ditumpanginya,  yang ternyata terlambat datang.
Di deretan depan kursi keperakan itu. Dengan mulut yang tak berhenti mengunyah karena menahan tegang yang amat sangat. Kegelisahan laki-laki yang takut gadisnya mengalami celaka.
Ia sekarang terpekur disitu. Lagi-lagi, perasaan sakit ini yang menahan kakiku mendekatinya.
Aku menghambur cepat meninggalkan sosoknya sambil menyeret bawaanku yang lumayan berat. Pesawat segera berangkat.
Dalam perjalanan didalam taksi dari Juanda menuju Surabaya kota, baru terpikir olehku, ada yang aneh dalam setiap perjumpaanku dengannya. 
Perempuan  itu menampakkan diri di tempat-tempat dimana aku dulu pernah mempunyai kenangan dengannya. Baik kenangan pahit ataupun manis. Kuingat-ingat. Pertama kali ia menampakkan diri di depan apartemen adalah tempat dimana kami dulu pernah bertengkar hebat. Halte depan apartemen dan hujan yang mengguyur hebat. Hmm.. sebuah kebetulan yang ajaib. Saat di kafe itupun. di tempat biasa aku menenggelamkan diri. Ia datang di suatu malam. Menemuiku menyampaikan kabar itu. Kabar yang melantakkan semuanya. 
Kemudian terakhir, di bandara.
rasa penasaran ini membuatku merogoh saku jaket. mengeluarkan HP dan memencet nomer seluler. Suara “tut..tut...”  menandakan HP tidak aktif. Kuingat, nomor lain yang bisa kuhubungi. Ya.. nomer rumahnya. tetapi…. Ah, kusingkirkan rasa ragu dihati, yang sempat meruyak dari kemarin.
Yang selalu menahan langkahku menemuinya.
Bukan kaki ini yang malas menemuinya. Tetapi sepertinya hati ini yang masih terasa seperti disayat.
Kupencet nomor rumahnya.. Nada mengisyaratkan tersambung, kemudian ada yang mengangkat telepon. “Assalamualaikum!” Sapaku sopan. “Waalaikum salam…” suara lembut di seberang. sebertinya suara bunda. 
“Saya Rizal bu” aku menguluk diri. Tak kudengar jawaban dari seberang telpon. Diam… Lumayan lama, sepi mengepung percakapan yang coba kubangun. Kemudian, terdengar tarikan nafas dalam disusul suara isak… Isak tangis tertahan. “Nak Rizal sudah tahu kalau Nita meninggal?”

Aku tercekat…
Kakiku mendadak lemas...


@seblat